Elena (26) meninggal karena penyakit diabetes. Ia sebatang kara, tak punya siapa-siapa. Uangnya habis untuk pengobatan sia-sia. Karena kebaikkan hati seorang pastor kharismatk, gereja setempat mengumpulkan dana untuk pemakamannya. Hanya saja, karena informasinya terlambat, ia baru akan dimakamkan 3 hari kemudian.
Elena masih di kamar mayat rumah sakut. Nuh, mahasiswa kedokteran, membeli makeup di drugstore terdekat, dan mewarnai mata Elena yang terkatup. Untung, tukang memandikan mayat, membawa bustier hitam yang ia curi di pasar loak. Andra, penanggung jawab kamar mayat, memastikan tak ada yang patroli di zona mayat.
Menghabiskan malam erotis dengan Elena, si mayat segar, sebelum belatung keluar dari pipinya.
"Elena dungu....dan tak berdaya" mereka bernyanyi dengan nada meledek.
Jangan melawak, dengan bertanya "bagaimana kalau Elena bangkit dari kematiannya?" Sebulan sebelum kematiannya, Elena dinyatakan hamil. Entah dengan siapa, sudah 6 bulan ia terbaring di rumah sakit.
Tanpa ada yang tahu, Elena juga tertular gonore dari ayah janin tersebut. Tak ada, termasuk ketiga pria yang "bersenang-senang" dengannya 3 hari berturut-turut ini.
Mayat Elena sudah dikubur dan dimakamkan dengan layak. Nuh, Andra, dan Untung melanjutkan kehidupan dan pekerjaan mereka, sembari menunggu mayat wanita berikutnya yang bisa jadi target mereka. Sudah 5 hari, mereka kencing berdarah, melepuh dan bernanah. Gonore menyambut mereka dengan bahagia.
Jadi sekarang, siapa yang dungu dan tak berdaya: Elena yang sudah di alamnya; atau ketiga necrophilia yang telah bersenang-senang dengan raganya?
Komentar
Posting Komentar