Throwback Thursday : 2017

         Sebelum gue cerita, I set the rule. I don't want to create any dramageddon, jadi di sini ngga ada maksud ngejelekkin orang lain. Juga, mohon maaf, yang nanya "dulu lo emangnya kenapa?" nggak akan gue jawab, I don't have any intention to "glamorizing" my sad experience, terus jadi objek "lambe turah" orang-orang kurang kesibukkan. I just want to share how I solve my problems, and I wish to inspire orang yang udah ngerasa mentok sama hidupnya; karena gue tau, itu nggak enak.

    It was 2017, dan secara finansial gue lebih stabil. Cuma dealing dengan masalah sama dari hari ke hari selama bertahun-tahun tuh capek sih. Idk what happened exactly, tapi ada yang nggak beres sama cara gue menyelesaikan masalah. Ada imajinasi yang kacau saat gue memutuskan untuk membenci orang. Gue makin menekuni hobi gue: nangis di kamar mandi kantor, udah bisa nggak pakai suara. Kebetulan gue punya mata yang sendu, jadi nggak ada yang sadar juga kalau gue abis nangis. Tiap dapat masalah, gue otomatis ke-recall semua pengalaman ngga enak waktu masih kecil. And whenever I walked on stairs, I secretly wished myself jump so everything is finished.

    Then I had a plan, lumayan nekad, tapi kalau berhasil, kehidupan bakal jauh lebih baik. But dang! Gagal. Gue hamil anak kedua



    Mungkin karena hormon juga, atau entah karena apa, gue makin sering nangis. Setiap hari bawaannya cemas. And I decided to make an appointment with another expert. I told everything I never told my friends, all swears I craved myself saying outloud. Nangis sekejer-kejernya sih waktu itu, tapi abis itu lega. Gue ngga disarankan buat kasih ASI, kalau emang ngga ngerasa mampu. Kalau setelah lahiran masih ngerasa sedih, disarankan datang lagi.

    Abis lahiran, gue ngga tau rasanya sedih atau bukan; karena yang dominan justru rasa lelah. Pastilah ya, normal banget ibu-ibu baru melahirkan tuh cape. Punya dua anak lagi. Tapi hal ngga beres mulai kejadian lagi. Pas tidur siang sama anak-anak, gue tuh ngerasa lagi terbang mengitari rumah; terus tiba-tiba gue sadar gue di tempat tidur ngga bisa gerak. Di situ ada suami gue, senyumnya serem banget (dan beda sama mimik muka suami sehari-hari). Si "bapaknya anak-anak" ini ngga ada kaki, kayak jin-nya Aladdin. I repeat, itu siang, dan suami gue lagi kerja. Gue teriak-teriak, pembantu ngga denger. Padahal waktu itu gue ada 2 pembantu

    Suatu Sabtu, subuh-subuh. Gue masih tidur, bertiga sama ana-anak. Gue setengah kebangun, tapi ngga bisa gerak, itu gue ditungguin sama orang pake capuchon putih di samping tempat tidur. Bentuknya manusia normal, tapi gue ngga jelas liat mukanya. Cuma gue ngga bisa gerak, ngga bisa bersuara. Pria itu ngga gerak juga, sama sekali, berdiri aja. Dia megang tongkat atau pedang, lumayan panjang. Gue berusaha bangun, sampai gue bisa bener-bener sadar dari tidur, pria berjaket itu hilang.

    Karena ngerasa udah ngga beres, I went to the expert I visited lately. Sekali konselling, sekali tes, beberapa kali email-emailan. Thank God, I wasn't being diagnosed for any mental illness. Puji Tuhan banget. But the expert said, intinya, faktor external lumayan mempengaruhi gue. Ini gue pake bahasa sendiri ya, cara gue melihat dunia jadi rada "ngaco" ngga cuma karena di titik terendah di 2013. Yang bikin jadi begini tuh semua pengalaman hidup, termasuk hal ngga enak yang terjadi waktu gue kecil.

    Kalau ditanya tahun-tahun itu dicompare sama hari ini, gue cuma bisa bilang: whatever that didn't kill me at those times, made me stronger today.

    Back to my point, gue ngga menyarankan bete dikit going to the expert (boros bosqu); tapi kalau rasanya udah ngga kuat lagi, you'd better not to self diagnose. Love yourself itu ngga segampang lirik lagu "I am beautiful no matter what they say". Pas lo ketemu masalah, it's easy to pointing finger on others. It's comfortable to pity on yourself, tapi lo berani ngga mikir; untuk hidup yang lebih baik, lo butuh diri lo dengan versi yang lebih berkualitas? Lo berani ngga dalam 1 quarter, mention 1 masalah terbesar waktu itu. dan mikir; itu bisa terjadi karena Semesta mau mengajarkan lo apa? Sudahkah lo berteman dengan diri lo, mengakui lo punya kekurangan apa, dan berusaha buat kontrol parameter tersebut? It's easy to call someone "toxic", tapi lo tau ngga, everyone has their own toxicity, termasuk diri lo sendiri? Gue sendiri, masih on the way buat itu semua.

    Some people choose to share their problems to closest friends. I do have orang-orang yang ngga ninggalin gue sampe sekarang, dan mereka tau persis kejadiannya. Tapi gue ngga mau mereka terbeban masalah gue. Mereka juga punya "perang"nya masing-masing. Once gue pernah kasitau seorang teman, hampir semuanya. Ya karena beliau ngga punya kapasitas, gue nyesel sih cerita sama dia. Karena gue cerita banyak hal, secara ngga langsung gue punya hutang buat timbal balik kebaikannya. Jadi pada saat gue lagi ngga bisa buat ada, dia bakal nyindir "palingan nanti gue ke psikolog juga kayak lo". At the end, gue stop semua silaturahmi sama orang ini sejak tahun lalu. Ngga punya rencana buat bersahabat sekali. Mungkin dia yang protagonis dan gue si antagonisnya, but this devil still deserves a peace of mind. Karena bersitegang juga lumayan banyak, terlepas bottleneck-nya di mana. Gue disumpahin macem-macem, karena jaga jarak gitu aja dan dulu pas lagi susah aja, ke dia.

    Dari pengalaman ini, gue juga belajar, seberapa pentingnya RESPECT - which includes boundaries, mau se-BFF apapun elo. Kalau lo paham dengan konsep ini, kualitas pertemanan lo bakal lebih baik sih.

    Hence, that's why, I said this out loud. Everyone has egos and needs. Kadang lo sendiri ngga sadar tentang itu, or it's just....lo butuh bantuan seseorang buat bantu mindmapping. Call me Miss Storm in a Teacup, tapi ini bukan perkara sepele sih, Just so you know, Ted Bundy; handsome - educated - charming - excellent communication skill, adalah pembunuh dan pemerkosa berantai. Use Google, Madame LaLaurie; bangsawan kerajaan yang mampu beli apa aja tanpa harus nunggu tanggal 25 - ngebunuh semua gadis yang jadi budaknya buat mandi pake darah mereka. Britney Spears, Kanye West...emang ngga apple to apple sih sama kita, but it could have been better kalau penangannya ngga terlambat.

    Gue kan suka banget cerita-cerita kriminal gitu ya. Ada juga lho, pelaku kriminal yang perbuatannya mind blowing, tapi dinyatakan sehat kejiwaannya. Mereka, secara sadar, mengacuhkan kemanusiaan, demi kepuasan ego atau kebutuhan "tersembunyi" mereka.

Before it's too late, before it's too dark...kalau ada yang ngga beres, you'd better check.

Namaste.


Komentar