Hospitalized
Seminggu lebih aku terbaring di sini. Berawal dari batuk yang tak kunjung berhenti dan muka memerah, aku didiagnosa penyakit campak. Kulitku yang putih pucat menjadi penuh bercak. Meskipun sekarang sudah mendingan, pandanganku menjadi kabur. Ibuku mengirim email kepada Om Bos berkaitan dengan kesehatanku yang belum pulih. Ibu bilang, kalau kantor ribet, aku resign aja dulu sampai sembuh. Aku bosan di rumah sakit. Serius, deh.
Karirku berawal dari November 2018. Setelah 5 tahun kuliah dan lulus, aku kerja di salah satu top headhunter di Indonesia. Ibuku seorang pensiunan dokter, dan beliau memiliki banyak koneksi di bidang farmasi. Aku menjadi Research Associate untuk klien-klien bidang farmasi. Aku sering menangis karena dimarahi Tempesta, bosku. Selain itu, si yogini gila itu juga sering membandingkan aku dengan Rafaelle. Setelah 1 tahun 11 bulan, aku memutuskan untuk pindah kerja. Awalnya Tempesta tidak mengizinkan aku resign, dia bahkan menyebutku backstabber karena diam-diam interview di tempat lain. Si janda rambut bondol bilang “Kalau kamu pindah ke perusahaan multinational, saya masih kasih. Nah ini? Mana ownernya mau ikut dunia politik, ujung-ujungnya kamu pasti disuruh pilih dia jadi presiden!”
Kurang lebih, aku sudah 8 bulan bekerja di perusahaan “tbk” ini. Aku kaget ternyata aku sekantor dengan Tina, seorang consultant yang sempat dihijack oleh Rafaelle untuk masuk timku. Ternyata kami malah berjodoh di sini. Kurang lebih aku masuk bersamaan dengan Tina. Pindahnya aku ke kantor ini merupakan pergerakan karir yang cukup bagus. Tadinya aku hanya seorang Researcher, dan untuk menjadi Consultant saja aku harus menjadi Senior Researcher dulu. Sementara di sini aku sudah menjadi Specialist. Gajiku pun naik 30%. Akan tetapi, performaku tidak terlalu bagus. Selama di sini aku baru bisa menghire 2 orang kandidat saja. Hal tersebut berbanding terbalik dengan Tina. Tina sudah bisa hire 18 orang dalam 2 Quarter ini. Ivanka, teman 1 tim kami, berhasil memasukkan 18 orang dalam 1 tahunnya. Kerja Tina memang bagus. Untung saja, si Om Bos tidak pernah membanding-bandingkan aku dengannya.
Aku merasa bodoh bekerja di sini. Entah itu alasanku semata karena aku memang tidak bisa bersaing dengan yang lain. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku takut jika setahun aku diberhentikan. Ada kemungkinan hal itu ngga terjadi sih, karena 60% keluarga dan sepupuku bekerja di sini. Paham kan maksudku. Ayahku, seorang Graphic Design yang cukup dikenal di kalangan media. Delmar Purnama, seorang pensiunan Kepala Bagian untuk design di sebuah perusahaan otomotif. Jangan bilang siapa-siapa ya. Alasanku mendapat pekerjaan ini karena aku memiliki faktor X dan Y, yaitu orang tuaku. Ibuku, Sahsa Tamburian, adalah seorang mantan dokter gigi yang dulu cukup terkenal. Sekarang beliau bekerja di rumah sakit daerah Tanjung Priuk, mengurusi HR dan GA. Aku diterima kerja pertama kali karena koneksi ibu, seperti yang kujelaskan. Sekarang, aku di terima di perusahaan ini karena aku anak perempuan Delmar Purnama.
Sasha Tamburian dan Delmar Purnama telah menikah kurang lebih 28 tahun, memiliki 2 orang anak, yaitu Aaami, kakakku; dan Aabriella, namaku. Aami, 28 tahun, bekerja di perusahaan BUMN bagian procurement. Aku yang berusia 25 tahun bekerja di sebuah perusahaan terbesar se-Asia Tenggara. Ibu menikah dengan Ayah setelah hamil 2 bulan, dan 7 bulan kemudian Aaami lahir. Waktu itu, Ibu sedang stres dengan studi kedokteran giginya. Ditambah tekanan keluarga yang menyindir ibuku calon perawan tua. Ibu berkenalan dengan Ayah, yang waktu itu hanya seorang design graifs dengan gaji UMR. Hal ini merupakan musibah bagi keluarga Ibu, karena di Manado dia keluarga terpandang. Selain hamil di luar nikah, mereka juga berbeda agama. Akhirnya mereka nikah beda agama. Walaupun Ibu masih Kristen sekarang, tapi KTPnya menjadi Islam. Karena kecurangan Ayah, aku dan Aaami berstatus Muslim sedari lahir. Kasihan Ibu, dia cantik dan menarik sewaktu muda. Nasibnya buruk, menikah dengan Ayah. Beliau, maksudnya ayahku, beruntung. Nama Delmar Purnama menjadi besar karena Ibu membantu Ayah masuk ke perusahaan otomotif terbesar tersebut via koneksi yang dimiliki.
Dari awal pernikahan hingga usianya 40 tahun, Ibu memenuhi kebutuhan ekonomi 70% setiap bulannya. Ibu seorang dentist, dan sempat punya klinik sendiri. Klinik tersebut menjadi langganan banyak orang, mengingat Ibu mudah bergaul dan attitude-nya baik. Ibu bahkan pernah menjadi spokeperson untuk salah satu merk odol terbesar di Indonesia. Sampai suatu hari, Ayah kena jantung koroner, dan Ibu harus mengurusnya. Menjadi HRGA dengan waktu kerja jam 09.00 sampai 15.00, Ibu punya waktu lebih untuk mengurus Ayah. Ibu yang membayar asuransi Aaami dan aku, uang sekolah kami, kebutuhan rumah tangga, tabungan, belanja, liburan. Ayah? Dia yang bertanggung jawab untuk rumah dan kendaraan. Awalnya, kami tinggal di rumah petak daerah Kramat Pela. Setelah KPR lunas, Ayah mencicil mobil Kijang Rover. Setelah mobil lunas, kami membeli rumah KPR yang lebih layak di daerah Salemba. Setelah KPR itu lunas, Ayah mencicil mobil Kijang SGX. Begitu seterusnya hingga 28 tahun pernikahan. Sekarang, aku tinggal di daerah Joglo. Ayah berhasil membelikan mobil masing-masing untuk aku dan Aami. Aku tahu, dalam lubuk hati Ibu, banyak kekecewaan kepada Ayah. Dari soal agama di KTP, perekonomian, dan pola hidup. Ibu begitu kuat di depan kami. Meskipun dia sedih melihat mobil butut yang dicicil Ayah. Dia pun harus menyisihkan uang bulanannya utk mencicil rumah yang diinginkan Ayah, seakan itu kewajibannya. Dia tetap berusaha terlihat tegar di mata kami. Ayah berpindah-pindah rumah dan berganti-ganti mobil untuk menyenangkan Ibu. Akan tetapi, Ayah tidak sadar bahwa bukan itu yang Ibu mau. Itulah pernikahan. Kamu berasumsi telah membahagiakan pasanganmu, dan kenyataannya kamu sedang mematahkan ekspektasinya terhadap kehidupan.
Untungnya, keluargaku tidak memaksa aku untuk cepat nikah. Apalagi Ibu, dia selalu berpesan agar aku dan Aaami mengejar apa yang ingin dikejar dulu baru menikah. Sial memang nasib Ibu, apalagi jika melihat 2 sahabatnya, Tante Tali dan Tante Babette. Tante Tali bernasib sama dengan Ibu. Dia hamil di usia 23 tahun. Setelah 6 tahun pernikahan, dia berani untuk memutuskan cerai. Setelah bercerai, dia membesarkan Talice, anaknya, sendirian. Lalu di usia 34 dia menikah dengan orang Prancis dan punya 2 anak laki-laki kembar. Sekarang di usia 55 tahun, dia tinggal di Malibu, California, bersama suaminya; menghabiskan sisa hidup bersama. Talice sempat menang local beauty pageant di awal 20. Sekarang dia sudah berusia 32 tahun, menikah dengan orang US dan punya 1 anak laki-laki. Sementara 2 anak kembarnya yang berusia 21 sedang berjuang seperti aku dan Aaami. Theodore menjadi developer di kampung IT. Travis menjadi atlit sepakbola. Lain hal dengan Tante Babette yang tidak punya anak. Janda kaya dan bahagia di usia menopause-nya. Puluhan tahun lalu, Ibu yang paling sejahtera di antara sahabatnya. Sekarang? Nasib yang lebih menyedihkan dari itik buruk rupa.
Aku takut menikah. Aku takut merasakan penderitaan Ibu. Aku juga bingung akan bagaimana statusku di kantor nanti setelah setahun. Achievementku sangat rendah dibanding yang lain. Aku juga takut tidak sembuh-sembuh. Jika aku resign, aku takut akan susah mendapatkan pekerjaan lagi. Sekalipun nanti aku menikah, aku takut susah punya anak. Jika aku nanti punya anak, aku takut karirku terganggu. Aku takut badanku menjadi gendut. Sudah setahun ini aku 2 kali gagal dalam hubungan. Aku ngeri ngga laku-laku nih, huhu. Tapi, aku juga takut nasibku akan seperti Ibu: dapat laki-laki "disfungsional" sebagai suami.
Aku harus segera sembuh, nih. Merasa kesepian di rumah sakit membuat aku overthinking. Banyak ketakutan yang tiba-tiba menghantuiku.
Komentar
Posting Komentar