Kacang Lupa Kulit
Laila. Umur 24 tahun. Tinggi 160 cm dengan bobot 40 kilograms. Aku seorang konsultan di sebuah perusahaan Jepang yang terletak di shopping mall daerah Jakarta Selatan.
Berawal dari aku melamar via Jobstreet. Aku lulusan universitas terbaik di Indonesia, sedang mencari kerja. Interviewerku waktu itu, Mas Surya, terlihat tampan di mataku. Walau sekarang, untukku dia terlihat seperti gay. Aku malah ditawari bekerja di konsultan ini. Lalu aku bertemu Team Leader yang ada di sana. Sebenarnya si TL tak terlalu suka padaku, aku hanyalah kandidat yg dipertimbangkan. Katanya, aku terlihat ambisius. Yea akhirnya, aku diterima bekerja. Tentunya hal ini membuat teman-teman kuliahku sibuk berbisik-bisik. Laila, yang dulu makan di kampus dibayari karena nggak punya uang, sekarang kerja di mall besar.
Awal pertama aku masuk, aku merasa malu. Rumahku jauh, melewati banyak pabrik dan pasar. Setiap datang ke kantor, aku rasa semua orang sadar bahwa badanku bau. Aku sudah mandi. Aku juga bingung akan bau yang hinggap di badanku. Mungkin karena perjalananku melewati banyak pabrik. Team Leader-ku, Mas Adam terlihat kurang menyukaiku. Valiza, satu tim-ku, sering memberikan statement yang membuatku merasa terinitimidasi. Satu-satunya orang dari tim kami yang terlihat masih mau mengobrol denganku adalah Miranda. Sejauh yang aku tahu, Valiza dan Mas Adam mendeskripsikan aku dengan 3 kata: bau, tidak menarik, agak susah dalam menangkap informasi dan perlu diulang berkali-kali. Status “dipertimbangkan” untukku memang valid.
Jangan tanya percintaanku. Aku telah 2 tahun putus dengan Arga, cowok yang aku taksir sedari SMP. Kita pacaran waktu kuliah. Setelah setahun pacaran, kita putus. Aku masih memikirkannya. Arga adalah orang kaya, berbeda denganku. Jika ingin melihat orang yang benar-benar miskin, akulah orangnya. Aku tinggal di sebuah rumah kontrakkan petak, berisi aku, Bapak, dan Mama. Untung saja Mas sudah menikah dan tinggal bersama keluarga kecilnya. Rumah kontrakkan yang kami tinggali berbiaya IDR 200,000 per bulan. Sungguh, rumahku sungguh kumuh. Belum pernah Arga kuajak ke rumahku. Aku malu.
Perlahan aku berubah. Aku mulai belajar menggunakan make up. Aku mulai pergi ke dokter kulit. Mesti dong, gajiku cukup besar dibanding dengan teman-teman kuliahku. Aku juga berhasil membuat Arga mengejarku. Balasan untuknya, yang telah memutuskanku dan membuatku sedih berbulan-bulan.
Karakterku memang jelek. Aku seorang "busung lapar" yang akan selalu lapar. Aku berusaha menutupi semuanya. Akan tetapi, bagaimana ya....itulah aku. Arogan, ambisius, congkak, tidak tahu diri, dan selalu berusaha membalas semua sakit hatiku kepada siapapun yang membuatku sakit hati. Namaku sama dengan nama Director-ku di kantor. Namaku Laila, dan namanya Lyla. Sama, kan? Hanya saja, orang tuaku dari kampung, tidak berijazah, dan ejaan ”Laila” sudah menjadi ejaan terbaik yang mereka tahu. Sementara Bu Lyla, blasteran Jepang - Batak yang tinggal di kawasan Menteng sedari kecil. Pendidikan orang tuanya tinggi, tentu mereka mengerti bahwa ejaan “Lyla” lebih baik daripada Laila. Aku sungguh percaya, bahwa akupun bisa menjadi Bu Lyla. Sama seperti bagaimana anak buah Bu Lyla di kantor memanggilnya, aku turut memanggilnya “Mom”.
Bu Lyla ada di divisi berbeda dengan yang aku kerjakan. Sejauh yang aku tahu, Bu Lyla sedang mencari anggota baru untuk divisi ini. Tentu aku menginginkannya. Aku sangat berambisi untuk itu. Aku mendekati Pak Tulus, shareholder perusahaan, secara personal. Aku tahu Pak Tulus tertarik denganku. Mungkin aku memang tidak cantik, tapi aku masih muda dan menarik. Aku sering pergi berduaan dengan Pak Tulus. Bahkan, kami hampir saja liburan ke Singapore bareng. Pak Tulus juga ingin membelikan aku rumah. Hanya saja ada satu kendala. Joan, teman dekatku, adalah kandidat yang sepertinya paling diinginkan oleh Bu Lyla.
Hal ini membuat hatiku ciut. Dibanding Joan, aku 5 skor lebih pintar dari Joan. Akan tetapi, harus kuakui, Joan 5 skor lebih cantik dari aku. Siapa laki-laki di kantor yang tidak menyukai Joan? Selain memang cantik, dia juga cukup “ramah” memegang tangan lelaki, dan kegiatan flirting lainnya. Pak Tulus berkata padaku bahwa sesungguhnya aku lebih pantas masuk divisi ini dibanding Joan. Pada suatu hari, hatiku begitu sakit, ketika Joan berkata, “Ya lo taulah, mungkin juga udah jadi kabar di kantor bahwa gue akan masuk divisi bu Lyla”. Hatiku sungguh sakit. Aku ditipu Pak Tulus. Bajingan. Akan tetapi, ada kabar baik. Neither me of Joan were really moving to this division at last. Instead, they currently look for a new employee to be involved in their division.
Sorry if my grammar is not really good and I talk with English. Aku belajar English dari "alam". Hanya dari film Hollywood aku belajar English. Aku sangat senang mempraktekkan Englishku di manapun aku berada, karena mungkin inilah satu-satunya kelebihanku. Aku tahu, di kantorku sekarang, daily conversation bersama expatriate dengan English. Aku juga tahu, di kantorku, English juga bukan hal mewah. Semua orang bisa berkomunikasi English, kecuali resepsionis. Mas Adam juga suka mengkritik English-ku yang banyak salah. Well, at least let me proud of my self, bisa kan? Itulah mengapa aku suka sekali bicara dalam English, ya biar terlihat keren aja.
Sekarang, Arga bukanlah pikiran utamaku. Semua laki-laki mengejarku. Ada kok yang mengajak aku jadi selingkuhan. Mungkin tunanganmu salah satunya. Akan tetapi, ada satu hal yang membuatku gundah: mengapa aku tidak lebih cantik dari Joan?
Komentar
Posting Komentar